Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Kehutanan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan contoh nyata keterkaitan tersebut. Kebakaran tidak hanya menimbulkan kerusakan ekologis dan mengganggu kesehatan masyarakat, tetapi juga berpotensi merusak daya tarik destinasi wisata.
Kabut asap dapat mengganggu penerbangan, mengurangi kenyamanan wisatawan, membatasi aktivitas luar ruang, dan menurunkan kualitas pengalaman berwisata. Jika berlangsung luas dan berkepanjangan, dampaknya dapat menjalar ke hotel, restoran, transportasi, usaha mikro, kecil, dan menengah, serta masyarakat yang menggantungkan pendapatan pada kegiatan wisata.
Penanganan karhutla sendiri membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta perusahaan pemegang konsesi. BNPB pada September 2026 juga menekankan pentingnya sinergi pemerintah dan pemegang hak guna usaha dalam menghadapi karhutla.
Dengan demikian, apabila pariwisata terdampak kebakaran hutan, evaluasi tidak cukup berhenti pada pertanyaan mengenai apa yang dilakukan Menteri Pariwisata. Publik juga perlu menilai langkah kementerian yang menangani kehutanan dan lingkungan, efektivitas penegakan hukum, kesiapan penanggulangan bencana, serta pengawasan terhadap kegiatan usaha.
Pembagian tanggung jawab ini bukan upaya saling melempar kesalahan. Justru, inilah dasar untuk meminta pertanggungjawaban setiap institusi sesuai kewenangannya.
Survei Perlu Dibaca Bersama Indikator KinerjaSurvei opini publik penting dalam demokrasi karena memberikan gambaran mengenai persepsi masyarakat. Namun, persepsi dan pengukuran kinerja merupakan dua hal yang berkaitan, tetapi tidak identik.
Publik dapat merasa kecewa terhadap suatu kebijakan, sementara sejumlah indikator sektoral menunjukkan perkembangan positif. Sebaliknya, angka pertumbuhan juga tidak otomatis membuktikan bahwa seluruh persoalan telah diselesaikan.
Kementerian Pariwisata, dalam rilis 8 Oktober 2026, menyampaikan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari–Agustus 2026 mencapai 10,58 juta, meningkat 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut patut dipertimbangkan, tetapi tetap perlu dibaca bersama indikator lain, termasuk perjalanan wisatawan nusantara, tingkat hunian hotel, belanja wisatawan, pemerataan manfaat ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
Editor : Fix Sumbar