KONEKTIVITAS

KONEKTIVITAS
KONEKTIVITAS

Ketika meninjau pembangunan stadion, Dony Oskaria mengingatkan pentingnya menjaga kualitas pekerjaan dan memastikan kontraktor serta subkontraktor memiliki kompetensi yang memadai. Kerjakanlah dengan sepenuh hati. Pesan itu patut digarisbawahi. Sebab, membangun stadion bukan hanya urusan mengejar target penyelesaian, tetapi juga menyiapkan warisan bagi generasi mendatang.

GOR Haji Agus Salim bagi masyarakat Ranah Minang jauh melampaui pembangunan fisik. Ia merupakan ruang ingatan kolektif. Karena itu, rekonstruksi ini semestinya tidak berhenti pada lahirnya stadion yang lebih modern. Ia juga harus menjadi pemantik kebangkitan sepak bola, pembinaan atlet, penyelenggaraan pertandingan, dan pertumbuhan ekonomi di sekitarnya.

Sitinjau Lauik, Memangkas Risiko dan Jarak

Beranjak ke pinggiran Kota Padang, Flyover Sitinjau Lauik juga menjadi simpul penting koneksasi. Jalan layang ini dibangun untuk menjawab persoalan lama di jalur Padang–Solok. Tanjakan curam, tikungan tajam, serta risiko kecelakaan yang selama bertahun-tahun menghantui pengendara.

Jalur Panorama I dan Panorama II bukan nama yang asing bagi pengemudi yang melintasinya. Ada kendaraan berat yang harus mengambil ancang-ancang. Ada mesin yang meraung keras ketika menaklukkan tanjakan. Ada pula pengemudi yang menahan napas saat kendaraan berpapasan di tikungan tajam.

Di situlah persoalan koneksasi terasa nyata. Jalan bukan sekadar penghubung dua kota. Jalan yang sulit dilalui juga dapat menjadi penghambat arus barang, meningkatkan biaya angkutan, memperpanjang waktu perjalanan, dan memperbesar risiko kecelakaan.

Flyover Sitinjau Lauik I dirancang sepanjang sekitar 2,77 kilometer. Proyek ini memiliki nilai investasi sekitar Rp2,793 triliun, sedangkan nilai konstruksi dan nilai kontrak dapat berbeda sesuai cakupan pekerjaan dan tahapan proyek. Pelaksanaannya menggunakan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), dengan masa kerja sama yang mencakup pembangunan dan layanan operasional.

Panjang ruas tersebut mungkin hanya beberapa kilometer. Namun, manfaatnya bisa melampaui angka di atas kertas. Dengan geometri jalan yang lebih aman, perjalanan Padang–Solok diharapkan menjadi lebih lancar. Risiko kendaraan kehilangan kendali, rem blong, atau tergelincir di jalur ekstrem dapat ditekan. Arus kendaraan barang pun berpeluang bergerak lebih efisien.

Ingat, Flyover bukan sekadar jembatan layang yang megah. Ia adalah investasi untuk memangkas risiko dan memperlancar pergerakan manusia serta barang. Di situlah nilai ekonominya.

Menghidupkan rel, Menggerakkan Ekonomi

Editor : Fix Sumbar
Banner Ultah Golkar 20
Bagikan

Berita Terkait
Terkini