Bagi sebuah kota perlintasan, keberadaan kawasan pergudangan dapat mengubah arus perjalanan menjadi arus ekonomi. Kendaraan yang selama ini hanya melintas bisa memiliki kepentingan untuk berhenti. Barang yang sebelumnya sekadar melewati kota dapat menjadi sumber kegiatan usaha.
Kawasan pergudangan akan menciptakan kegiatan ekonomi turunan. Ada tenaga kerja, jasa angkutan, bongkar muat, usaha makanan, perawatan kendaraan, hingga tumbuhnya usaha perdagangan di sekitarnya. Sederhananya, pergudangan bisa menjadi salah satu mesin ekonomi baru bagi Padang Panjang.
Padang Panjang jangan sampai terlambat. Ketika Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia mulai mendorong reaktivasi jalur kereta api Kayu Tanam–Padang Panjang, pemerintah kota seharusnya bergerak cepat menyiapkan diri.
Kesempatan membangun ekosistem ekonomi harus dipersiapkan sejak sekarang. Pemerintah kota perlu mengidentifikasi lahan potensial, menyusun kajian kelayakan, memetakan kebutuhan logistik, dan membuka komunikasi dengan KAI, pemerintah provinsi, pelaku usaha angkutan, distributor, serta pengusaha perdagangan.
Pembangunan kawasan pergudangan juga tidak harus langsung berskala besar. Bisa dimulai secara bertahap, sesuai kebutuhan pasar dan kemampuan investasi. Yang penting, arah pengembangannya jelas dan terhubung dengan rencana reaktivasi kereta api.
Saya membayangkan Padang Panjang seperti sebuah tim sepak bola. Selama ini, ia mungkin lebih banyak menjadi pemain yang dilewati bola. Kini, Padang Panjang harus berani mengambil peran sebagai gelandang pengatur permainan. Ia menghubungkan pertahanan dan penyerangan, mengatur aliran bola, lalu mendistribusikannya kepada pemain yang tepat.Begitu pula dalam ekonomi. Padang Panjang bisa menjadi pengatur arus barang dari pesisir menuju darek dan sebaliknya. Jadi Singapura minilah perannya. Barang masuk, dikonsolidasikan, lalu didistribusikan ke tujuan masing-masing. Arus manusia yang datang juga dapat menghidupkan perdagangan, jasa, kuliner, dan pariwisata.
Tangkaplah sinyal konektivitas itu. Reaktivasi kereta api bukan sekadar menghidupkan kembali rel tua yang lama tertidur. Ini adalah momentum untuk membangun kembali hubungan ekonomi antarkawasan.
Padang Panjang harus membaca sinyal itu sebagai kesempatan untuk menaikkan kelasnya. Bukan lagi hanya kota yang dilewati kendaraan dan kereta api, melainkan kota yang menjadi tempat barang dikumpulkan, disimpan, dipertukarkan, dan didistribusikan. (*)
Editor : Fix Sumbar