Hari itu, aku membuktikan bahwa anak yang sering diremehkan itu bisa juga berdiri sejajar dengan orang-orang yang dulu meragukannya. Semua yang pernah bilang aku nggak akan kuliah, nggak akan jadi sarjana, nggak akan jadi wartawan…!
Hari ini mereka melihat fotoku dengan toga. Dan aku bangga bisa membuat orang tuaku tersenyum selebar itu.
Aku bukan siapa-siapa. Aku cuma anak dari kampung kecil yang kadang sunyi, kadang ramai oleh omongan orang. Tapi satu hal yang kupelajari, jangan biarkan orang lain ngatur batas mimpimu. Setiap orang punya jalannya sendiri. Punya waktunya sendiri.
Sebelum menutup cerita ini, aku cuma mau bilang terima kasih untuk semua orang yang pernah dukung, menyemangati, atau sekadar percaya. Untuk sesama petarung di luar sana, jangan berhenti mimpi. Kejar, wujudkan, dan nikmati prosesnya. Kalau kita anak kampung, aku bisa, aku yakin kalian juga bisa.“Anakkesayanganayahibu”