Semua Tertimbun Kecuali Solidaritas di Tanah Bencana

Foto Adrian Tuswandi

Peristiwa naas diakhir november, sejumlah kampung di Sumatra bagian utara disapu banjir bandang.

Hujan berhari-hari, puncaknya Rabu pagi 27 November 2025 di Sumbar, Sumut dan Aceh nestapa. Sejumlah kampung pun diterjang banjir bandang.

Di Sumatra Barat pekikan minta tolong terdengar membahana ke seluruh negeri, sebut saja Salareh Aie, Malalak, Malalo, Jembatan Kamba, Lumin Park, Batu Busuk dan banyak lokasi terdampak. Air berwarna kecoklatan bergulung gulung deras buas mencari mangsanya.

Tidak sekedar air deras saja, tapi ada lumpur dan ada batang kayu jutaan kubik dibawanya, menghondoh siapa dan apa pun mengahadang. Seketika itu ranah minang baurai aie mato (berurai air mata).

Salareh Aie, Matur, Malalak, Jambatan Kama Silaing, Kasai, Malalo, Batu Busuk, Bayang, Solok, Ya Allah semua terendam lalu tertimbun, ratusan korban jiwa mengahadap Mu Ya Rabb dan ratusan rumah warga tertimbun.

Semua tertimbun oleh lumpur dan potongan kayu diduga kayu dari tebangan liar alias ilegal loging.

Tapi sesaat setelah bencana, tumbuh menjulang subur pohon raksasa bernama pohon solidaritas.

Pohon solidaritas dipupuk oleh narasi dan video jurnalis maupun netizen di banyak media sosial, menanarkan mata siapa saja membaca dan melihatnya.

Gelombang solidaritas pun mengalir deras ke titik bencana yang terisolasi, mulai spontanitas per orangan, komunitas relawan, selebgram negeri, hingga RI 1 dan RI 2 Republik Indonesia.

"Saya pastikan semua korban ditangani dan infrastruktur dibangun kembali,"seperti itu lah Presiden RI Prabowo saat mengunjungi pengungsi di daerah bencana banjir bandang di Aceh, Sumut sumbar.

Banner WIES 2025 1
Bagikan

Opini lainnya
Terkini