Selat Hormuz dan Bayang-Bayang Krisis Energi Global

Foto Two Efly

Ketiga, mempercepat transisi energi melalui program biodiesel, pengembangan energi terbarukan, serta perluasan penggunaan kendaraan listrik. Keempat, meningkatkan produksi energi domestik melalui eksplorasi blok migas baru dan pembangunan kilang minyak baru.

Kelima, mengelola subsidi energi secara lebih tepat sasaran agar beban fiskal tetap terkendali jika harga minyak dunia melonjak.

Ketegangan di Selat Hormuz adalah pengingat bahwa stabilitas energi global sangat rapuh. Selama Indonesia masih bergantung pada impor minyak, setiap gejolak geopolitik di pasar energi dunia akan selalu membawa risiko bagi perekonomian nasional. Ketahanan energi bukan lagi sekadar pilihan kebijakan. Ia telah menjadi kebutuhan strategis bagi masa depan ekonomi Indonesia. (*)

Banner JPS- Insanul KamilBanner Nindy - JPSBanner Rahmat Saleh - Milad Berdaya
Bagikan

Opini lainnya
Terkini