Keputusan DPP Partai NasDem menonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach mulai 1 September 2025 menjadi sorotan publik. Alasan formal yang disampaikan adalah karena adanya pernyataan yang menyinggung rakyat. Namun, bila ditelusuri lebih dalam, kasus ini bukan sekadar soal etika berucap. Ini adalah cermin dari pertarungan kepentingan elit dan wajah asli oligarki yang menguasai tubuh partai politik di Indonesia.
Sahroni dan Nafa hanyalah korban. Keduanya dijadikan “tumbal politik” untuk meredam tekanan, memperkuat kendali segelintir elit, dan menjaga pola one man show yang sudah lama berjalan. Dalam partai yang sehat, perbedaan pendapat seharusnya diselesaikan melalui mekanisme demokrasi internal. Namun dalam partai yang dikendalikan oligarki, kader bisa dengan mudah disingkirkan bila tidak sejalan dengan “garis tunggal” elit.
Fenomena ini sejatinya bukan monopoli NasDem. Hampir semua partai politik di Indonesia mengalami penyakit serupa: minim demokrasi internal, sarat oligarki, dan lebih mementingkan elit ketimbang rakyat.
Suara Tokoh Bangsa: Demokrasi vs Oligarki
Seandainya para pendiri bangsa masih hidup, mereka tentu akan kecewa melihat praktik politik hari ini.
Bung Hatta, politisi dan negarawan Minang, pernah menegaskan bahwa demokrasi sejati harus berakar pada musyawarah dan kebersamaan rakyat. Baginya, partai politik adalah alat perjuangan rakyat, bukan kendaraan pribadi elit.Sutan Sjahrir menekankan pentingnya etika politik. Ia selalu menolak politik kekuasaan semata tanpa moralitas. Dalam pandangan Sjahrir, politik tanpa etika hanya akan melahirkan intrik, saling menjatuhkan, dan korban-korban baru di internal partai.
Tan Malaka jauh-jauh hari sudah mengingatkan bahwa politik harus berpihak pada rakyat pekerja dan kaum tertindas. Ia menolak keras dominasi segelintir elit yang memanfaatkan organisasi untuk kepentingan pribadi.
Mohammad Natsir berbicara soal integritas dan perjuangan ideologis. Bagi Natsir, partai politik harus teguh pada prinsip, bukan menari mengikuti irama kepentingan sesaat dari penguasa atau elit partai.
Amien Rais, tokoh reformasi, adalah pengingat hidup bahwa oligarki adalah musuh utama demokrasi. Ia berkali-kali mengingatkan bahaya konsentrasi kekuasaan di tangan segelintir elit yang memperalat partai politik untuk kepentingan mereka sendiri.