Dengan demikian, anak kemenakan dan masyarakat sekitar dapat berpartisipasi tanpa hambatan finansial.
"Kami ingin pembentukan karakter anak-anak dilakukan melalui kegiatan positif seperti ini," tambahnya.
Gebu Minang, yang selama ini dikenal sebagai penggerak pelestarian budaya dan ekonomi, kembali menghidupkan tradisi di Medan Nan Bapaneh.
"Kami berharap program ini menjadi role model yang bisa diterapkan di nagari-nagari lain," ungkap Dr. FDB.
Dr. FDB juga menyoroti pentingnya peran Taman Budaya sebagai penghubung adat dan budaya Minangkabau bagi generasi penerus.
Menurutnya, tradisi seperti Medan Nan Bapaneh dan sasaran silek perlu diaktifkan kembali agar nilai-nilai luhur budaya tidak pudar.
Dalam pidatonya, Dr. FDB menegaskan bahwa ketahanan budaya adalah fondasi penting untuk memperkokoh ketahanan daerah dan nasional."Saya yakin bahwa ketahanan budaya ini harus menjadi prioritas, karena ia adalah kunci untuk memperkuat identitas bangsa dan menjaga keutuhan nasional," tegasnya.
Program Medan Nan Bapaneh yang digagas oleh Dr. FDB menjadi langkah nyata dalam melestarikan budaya Minangkabau.
Dengan dukungan masyarakat dan partisipasi aktif generasi muda, diharapkan warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang, menjadi kebanggaan Minangkabau sekaligus Indonesia. (***)
Editor : Redaksi


