Seiring berjalan waktu, banyak kalangan yang menilai roh awal Sidang Bersama Parlemen ini belum sepenuhnya terwujud. Sidang Bersama Parlemen kini lebih bernuansa seremonial kenegaraan daripada forum substantif yang benar-benar mengintegrasikan aspirasi daerah ke dalam kebijakan nasional.
Memang, dalam sidang itu, kehadiran para kepala daerah masih ada, namun lebih bersifat simbolis. Dialog dan interaksi langsung hampir tidak terjadi. Padahal, gagasan awal sebagaimana yang diperjuangkan oleh Irman Gusman, bukan sekedar mendengar pidato satu arah, melainkan jauh dari sekedar itu, yakni membangun diskusi strategis-substantif antara pusat dan daerah.
Agar ruh awal—mendekatkan perspektif pusat dan daerah—tetap hidup, beberapa langkah kiranya penting untuk dapat dipertimbangkan: (1) Sesi tematik singkat untuk masukan kepala daerah terkait prioritas nasional; (2) Paparan capaian daerah terpilih yang relevan dengan agenda pemerintah pusat; (3) Kanal tindak lanjut agar butir Sidang Bersama terintegrasi dalam proses kebijakan dan anggaran.
PenutupSidang Bersama DPD–DPR adalah bukti bahwa ide yang sempat ditolak bisa menemukan jalannya menjadi tradisi. Ia lahir dari ruang aspirasi daerah, sempat terhambat oleh tafsir konstitusi, namun bertahan lewat kompromi.
Kini, tugas generasi politik berikutnya adalah memastikan tradisi ini tidak kehilangan makna. Sebab, di balik kursi-kursi rapi di Gedung Nusantara, ada harapan besar bahwa suara daerah akan selalu mendapat tempat di panggung nasional.
Editor : Fix Sumbar


