“Coba ulangi sekali lagi”
Yel yel ‘Pagi’ kembali digaungkan di ruang seluas sekitar 20 m2X 35 m, namun bendera Merah Putih bergeming. Ia tetap dalam posisi terjuntai diam.
“Seharusnya bendera itu bergerak,” ujar Kolonel Inf Istanto sambil tersenyum seperti ingin mengatakan bahwa semangat bela negara para peserta retret PWI kurang kuat.
Apa yang disampaikan oleh Kolonel Inf Istanto bisa jadi merupakan sindiran kepada para wartawan yang tergabung di PWI bahwa semangat bela negara, bangsa, dan tanah air mereka sudah mengendur, melempem. Padahal PWI-lah yang dalam sejarahnya merupakan tonggak utama perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakkan kedaulatan melalui karya jurnalistiknya.
Sejarah mencatat wartawan Indonesia berjuang menegakkan kedaulatan negara, membakar semangat nasionalisme melalui pengumpulan informasi yang ditulis dengan pena dan menyebarkannya melalui media cetak stensilan yang ada saat itu, berita-berita seputar perjuangan bangsa, pernyataan proklamasi di tengah tekanan penjajah dan propaganda asing.
Pers Republiken milik pribumi menjadi alat perjuangan dalam menyuarakan kemerdekaan dan memperkokoh persatuan bangsa melawan penjajah asing, membangkitkan semangat perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus mencerdaskan bangsa.
Klimak perjuangan para kuli tinta itu dinyatakan dalam Kongres wartawan yang digelar pada 8-9 Februari 1946 di Solo yang menegaskan pers harus menjadi alat untuk mempertahankan kedaulatan negara. Jejak sejarah ini bisa dilihat di Monumen Pers Nasional yang menjadi tempat kongres yang masih berdiri tegak hingga kini.Dalam perjalanan waktu, pers perjuangan bergeser menjadi pers industri seiring dengan mulai masuknya modal besar di dunia pers. Pemilik modal memberikan perhatian pada modernisasi pers dengan menyediakan teknologi cetak yang canggih, penyiaran berita melalui tv, radio, dan internet.
Di satu sini industrialisasi pers meningkatkan kecepatan pemberitaan, memperluas jangkauan, dan memberikan kesejahteraan lebih baik kepada para wartawan, di sini lain muncul masalah independensi, konflik kepentingan, melemahnya semangat nasionalisme, dan menjadi alat kepentingan pemilik modal.
Situasi tersebut tanpa sadar mempengaruhi mentalitas sejumlah wartawan sehingga muncul fenomena ‘wartawan amplop’, ‘bodrex’, ‘tukang pelintir’ dan lain-lain.
Editor : Fix Sumbar


