Fadli Zon turut mencontohkan praktik internasional terkait kontribusi ekonomi museum. Di Amerika Serikat, museum menopang lebih dari 726 ribu lapangan pekerjaan dan berkontribusi sekitar 50 miliar dolar AS per tahun bagi perekonomian nasional. Sementara di Kanada, museum menghasilkan manfaat sosial tahunan mencapai 8,6 miliar dolar AS.
Dalam konteks Indonesia, pembentukan Museum dan Cagar Budaya (MCB) sebagai Badan Layanan Umum (BLU) disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat layanan, pemanfaatan aset, kemitraan, serta menciptakan pendapatan berkelanjutan bagi konservasi dan edukasi budaya.
Hingga April 2026, Kementerian Kebudayaan mencatat terdapat 516 museum di Indonesia. Dari jumlah itu, sebanyak 373 museum telah teregistrasi dan 234 museum telah terstandarisasi.
Fadli Zon menilai data tersebut menjadi dasar penting untuk memperkuat ekosistem permuseuman nasional, mulai dari registrasi, digitalisasi, tata kelola koleksi, hingga peningkatan kualitas layanan publik.
“Kita ingin ekosistem permuseuman Indonesia tumbuh bukan hanya dalam jumlah, tetapi juga dalam mutu, relevansi, dan dampaknya bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya menjadikan museum lebih relevan bagi generasi muda. Berdasarkan survei Museum dan Cagar Budaya pada 2025, lebih dari 70 persen pengunjung museum berusia di bawah 35 tahun, dengan kelompok terbesar berada pada rentang usia 18 hingga 24 tahun.
“Tugas kita selanjutnya adalah memastikan generasi muda tidak berhenti sebagai pengunjung, melainkan tumbuh sebagai peserta aktif. Museum harus berbicara kepada realitas mereka,” ujar Fadli Zon.Dalam kesempatan itu, Menbud turut mengapresiasi peluncuran Museum Passport oleh BLU Museum dan Cagar Budaya bersama Asosiasi Museum Indonesia dan ICOM Indonesia. Program tersebut diharapkan dapat memperluas partisipasi masyarakat dan menjadikan kunjungan museum sebagai bagian dari gaya hidup berbudaya.
Menutup orasinya, Fadli Zon mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat museum sebagai ruang peradaban sekaligus penggerak ekonomi budaya Indonesia.
“Mari perkuat museum yang hidup secara intelektual, cakap secara digital, berakar pada ilmu pengetahuan, terbuka bagi masyarakat, dan mampu menggerakkan ekonomi budaya sebagai ruang peradaban Indonesia,” ucapnya. (*)
Editor : Fix Sumbar


