Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Lily Mochamad Sadeli, menyampaikan bahwa BI terus menjalankan peran edukatif kepada masyarakat melalui berbagai program komunikasi publik yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan digitalisasi.
“Dalam konteks komunikasi publik, kami terus menjalankan peran edukasi dan membangun awareness masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi penting agar pemahaman publik terhadap kebijakan dan layanan Bank Indonesia semakin baik,” ujar Lily.
Ia menjelaskan, Bank Indonesia secara konsisten melakukan edukasi melalui berbagai program seperti Ramadan, Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah), kampanye Bijak Belanja, hingga sosialisasi kepada pesantren dan komunitas masyarakat.
Menurut Lily, strategi komunikasi BI dilakukan secara segmented sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing unit kerja.
Dalam mendukung keterbukaan informasi publik, lanjutnya, BI juga telah menyusun Daftar Informasi Publik (DIP) serta Daftar Informasi yang Dikecualikan (DIK) secara terklasifikasi.
“Semoga pertemuan ini menjadi awal kolaborasi yang baik sehingga tujuan keterbukaan informasi publik dapat tercapai. Kami juga ingin terus berpartisipasi dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat,” katanya.
Lily menambahkan, perkembangan digitalisasi yang semakin cepat membuat edukasi perlindungan konsumen menjadi perhatian penting BI, khususnya terkait keamanan transaksi digital dan penggunaan QRIS.“Digitalisasi berkembang sangat cepat. Karena itu, edukasi perlindungan konsumen, pemahaman transaksi digital yang aman, serta penggunaan QRIS terus kami perkuat,” ujarnya.
Dalam pelaksanaan sosialisasi, BI tidak hanya mengandalkan kegiatan tatap muka, tetapi juga memanfaatkan berbagai saluran komunikasi resmi agar informasi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
Selain itu, edukasi mengenai kebanksentralan juga terus diperkuat melalui program sosialisasi dan kegiatan mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta.
Editor : Fix Sumbar


