Abu Janda, Mulutmu Itu

Abu Janda, Mulutmu Itu
Abu Janda, Mulutmu Itu

Kata-kata memang tidak meninggalkan luka di tubuh. Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan, banyak perpecahan justru bermula dari lisan yang merasa bebas tanpa batas.

Karena itu, menjaga mulut bukan soal takut berbicara. Menjaga mulut adalah bentuk kedewasaan dalam menggunakan kebebasan.

Sebab kadang, yang menghancurkan bukan pedang. Yang menghancurkan adalah kata-kata yang dibiarkan lepas tanpa tanggung jawab.

Kami Berdampingan

Apa yang disampaikan abu Janda sangat jauh panggang dari api. Warga diranah ini tak pernah bertikai dengan umat lain termasuk Nasrani yang disebut sebut Abu Janda tadi.

Sebaiknya abu janda melihat fakta dan data di lapangan lah. Dimana rumah ibadah umat non islam yang dilempari atau di ganggu. Ingat ya, rumah ibadah. Bukan aula pertemuan yang di sulap menjadi rumah ibadah.

Selain tempat dan kelancaran beribadah, di ranah ini juga tak pernah ada diskriminasi bahkan tendensi. Lihatlah fakta di sekolah Don Bosko. Berapa banyak anak muslim yang menimba ilmu disana. Selama menimba ilmu mereka juga tidak dimarginalkan.

Begitu juga dalam aktivitas ekonomi. Di kawasan pondok (pecinaan) di kota Padang semua anak ranah ini membaur. Dalam bekerja tak pernah ada pertanyaan dan penolakan kalau tak se akidah. Semua pihak saling menjaga batas. Kenapa? Karena warga di ranah ini menyadari urusan akidah adalah urusan insan dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Diujung tulisan saya ingin menyampaikan, Sumatera Barat bukanlah Islam barbar. Kami diranah ini hidup penuh persaudaraan dan saling harga menghargai. Jangan pernah usik kenyamanan kami dan jangan ganggu harmonisasi kami. (*)

Editor : Fix Sumbar
Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbarBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Bagikan

Berita Terkait
Terkini