Kompleks ini lahir pada tahun 1983 ketika Kota Padang dipercaya menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XIII. Ribuan kafilah dari seluruh Indonesia berkumpul di kawasan Rimbo Kaluang untuk mengikuti berbagai cabang perlombaan. Perhelatan akbar tersebut bahkan dibuka langsung oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Jenderal Besar Soeharto.
Usai MTQ, pemerintah menilai kawasan tersebut terlalu berharga jika hanya menjadi monumen sebuah kegiatan. Bangunan itu kemudian dialihfungsikan menjadi pusat olahraga.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Ir. H. Azwar Anas, pembangunan stadion dilanjutkan secara bertahap. Tribun yang semula belum rampung disempurnakan hingga akhirnya pada tahun 1985 GOR Haji Agus Salim resmi menjadi stadion olahraga terbesar di Sumatera Barat.
Sejak saat itu, stadion ini menjadi saksi perjalanan olahraga Ranah Minang. Ribuan pertandingan pernah digelar di sana. Jutaan langkah kaki pernah memenuhi tribun dan lapangannya. Di tempat itulah lahir cerita kemenangan, kekalahan, harapan, dan kebanggaan masyarakat Sumatera Barat.
Usia Tak Pernah Berdusta
Kini lebih dari empat puluh tahun telah berlalu.
Selama rentang waktu itu stadion telah berkali-kali direnovasi. Rumput diganti, fasilitas diperbaiki, kursi diperbarui, dan berbagai sarana dilengkapi. Namun ada satu hal yang tidak dapat dipoles hanya dengan cat baru atau pergantian rumput, yakni usia struktur bangunan.Dalam dunia teknik sipil dikenal istilah umur layanan bangunan. Setiap bangunan memiliki masa layanan yang harus dievaluasi secara berkala. Bukan berarti bangunan otomatis harus dibongkar ketika mencapai usia tertentu, tetapi kondisi strukturnya harus dipastikan tetap aman.
Hal ini menjadi semakin penting karena GOR Haji Agus Salim berdiri di Kota Padang, salah satu wilayah dengan tingkat aktivitas gempa tertinggi di Indonesia. Selama puluhan tahun bangunan ini telah berkali-kali merasakan guncangan, termasuk gempa besar tahun 2009.
Retakan mungkin dapat ditambal. Dinding mungkin masih tampak kokoh. Namun kekuatan sebuah bangunan tidak selalu dapat dinilai hanya dari penampilannya. Beton dapat mengalami penurunan mutu, baja tulangan dapat mengalami korosi, dan sambungan struktur dapat kehilangan kekuatannya seiring perjalanan waktu.
Editor : Fix Sumbar