Pada 2026, pemerintah memproyeksikan dividen BUMN mencapai Rp200 triliun tanpa tambahan Penyertaan Modal Negara (PMN). Angka tersebut menunjukkan kontribusi perusahaan negara terhadap APBN semakin besar.
Prabowo menegaskan keuntungan yang diperoleh BUMN tidak berhenti sebagai angka dalam laporan keuangan. Dana tersebut digunakan untuk mempercepat program hilirisasi nasional, pembangunan industri strategis, serta menciptakan lapangan kerja baru.
Bersama Danantara, pemerintah telah memulai 26 proyek hilirisasi sepanjang 2026. Proyek itu mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pembangunan smelter aluminium.
Lebih jauh, pemerintah juga mulai menerapkan strategi upstreaming, yaitu memanfaatkan kekuatan finansial BUMN untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan global yang memiliki teknologi, jaringan pasar, dan kemampuan manajemen kelas dunia.
Bagi Prabowo, keberhasilan transformasi BUMN bukan hanya soal laba yang meningkat atau jumlah perusahaan yang dirampingkan. Transformasi tersebut menjadi fondasi bagi Indonesia untuk membangun ekonomi yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing global.Di hadapan sidang kenegaraan yang menjadi bagian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Presiden menunjukkan bahwa pembenahan BUMN telah menjadi salah satu cerita penting perjalanan Indonesia menuju cita-cita besar sebagai negara maju. Di balik cerita itu, Danantara dan Dony Oskaria menjadi nama yang mendapat pengakuan langsung dari kepala negara atas keberhasilan mengubah wajah perusahaan-perusahaan milik rakyat Indonesia. (*)
Editor : Fix Sumbar


