Koto Baru dan kawasan sekitarnya di Kabupaten Solok juga memiliki peluang serupa. Letaknya yang berada dalam jalur perjalanan menuju sejumlah destinasi wisata dataran tinggi dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan destinasi persinggahan berbasis pertanian. Wisatawan tidak hanya melewati kawasan tersebut, tetapi memiliki alasan untuk berhenti, berfoto, menikmati kuliner dan membeli produk masyarakat.
Sementara Alahan Panjang memiliki modal yang bahkan lebih lengkap. Kawasan yang berada di ketinggian sekitar 1.400 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut itu telah dikenal dengan udara sejuk, perkebunan, hortikultura, Danau Kembar dan berbagai aktivitas agrowisata.
Pengalaman agrowisata stroberi di Alahan Panjang menunjukkan bahwa wisata berbasis kebun memiliki pasar. Konsep tersebut dapat diperluas dengan menghadirkan kebun bunga sebagai atraksi baru. Bayangkan wisatawan berjalan di antara hamparan krisan, mawar atau bunga lainnya dengan latar perbukitan, Danau Kembar dan panorama Gunung Talang.
Di sinilah konsep flower tourism atau wisata bunga khas Sumbar dapat dikembangkan. Bukan sekadar meniru Kota Batu, tetapi menciptakan identitas sendiri yang menggabungkan keindahan bunga dengan alam dan budaya Minangkabau.
Kebun bunga dapat dilengkapi dengan rumah gadang sebagai latar arsitektur, jalur pedestrian, taman tematik, gazebo, area edukasi, tempat penjualan bunga, kuliner tradisional serta sentra UMKM. Pengunjung datang untuk berfoto, tetapi pada saat yang sama memperoleh pengalaman mengenai kehidupan petani dan produk lokal.
Model tersebut juga tidak mengharuskan seluruh lahan pertanian diubah menjadi objek wisata. Sebagian besar lahan tetap dapat digunakan untuk produksi, sementara sebagian lainnya ditata sebagai area kunjungan. Dengan begitu, fungsi utama lahan sebagai sumber penghasilan petani tetap terjaga.
Justru, nilai tambahnya terletak pada kemampuan menggabungkan dua aktivitas. Petani tetap memperoleh pendapatan dari penjualan bunga, sedangkan kunjungan wisata membuka sumber penghasilan tambahan melalui tiket, parkir, jasa pemandu, edukasi, penjualan tanaman, kuliner dan produk UMKM.Media sosial kemudian dapat menjadi mesin promosi. Hamparan bunga yang indah secara alami memiliki daya tarik visual. Ketika wisatawan membagikan foto dan video melalui media sosial, promosi dapat berlangsung secara organik dan menjangkau calon pengunjung dari berbagai daerah.
Namun, pengalaman Kota Batu juga menunjukkan bahwa viralitas saja tidak cukup. Sebuah kawasan wisata harus memiliki pengelolaan yang baik agar tidak berhenti sebagai tempat yang ramai sesaat. Akses jalan, parkir, toilet, kebersihan, keamanan, pengelolaan sampah, kapasitas pengunjung dan pemeliharaan tanaman harus dipikirkan sejak awal.
Yang tidak kalah penting adalah keterlibatan masyarakat. Pemerintah sebaiknya berperan sebagai fasilitator melalui pembinaan petani, peningkatan infrastruktur, promosi, penguatan kelembagaan desa wisata dan akses pasar. Sementara petani dan masyarakat lokal menjadi aktor utama karena merekalah pemilik pengetahuan, lahan dan aktivitas produksi.
Editor : Fix Sumbar