Pers Pelawan Tangguh Misinformasi dan Disfungsi Informasi

Foto Adrian Toaik Tuswandi

"Kita hidup di zaman di mana kabar menyebar lebih cepat dari kebenaran. Dalam hitungan detik, satu unggahan di media sosial bisa menembus jutaan mata, tanpa sempat diverifikasi. Dunia digital yang awalnya dianggap membawa kebebasan justru menciptakan paradoks: kebebasan tanpa tanggung jawab, kecepatan tanpa akurasi.

Fenomena ini melahirkan apa yang disebut disfungsi informasi," ujarnya.

Jika, ketika arus informasi tidak lagi menyehatkan publik, tapi malah membingungkan. Informasi kehilangan fungsi dasarnya sebagai penerang, dan berubah menjadi kabut yang menutupi kenyataan.

Sehingga wajar memamah habis informasi di media sosial tanpa mekanisme cek and ricek bisa berakibat fatal bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh terbaru kerusuhan 25-28 Agustus di Jakarta dan banyak daerah di Indoensia.

Bagaimana buzzer memproduksi opini dengan berbagai metode disebar di banyak platform media sosial, bentrok, korban materil maupun jiwa pun terjadi.

Sekaitan fenomena kekinian itu, Jürgen Habermas seorang filsuf komunikasi mengingatkan, ruang publik yang sehat hanya bisa tumbuh jika masyarakat memiliki akses pada informasi yang rasional dan jujur.

"Nah misinformasi dan disinformasi tersaji dengan cara mempelintir maupun memenggal narasi media pers sesuai target yang ditujunya, seketika itu ruang publik yaitu tempat warga berpikir dan berdialog, pelan tapi pasti jadi rusak," ungkap Henermas.

Seharusnya dan sangat berperan untuk sikat misinformasi dan disinformasi, serta benteng terakhir kebenaran di tengah kekacauan informasi itu adalah wartawan.

Pada situasi itu, peran pers menjadi sangat penting. Bahkan Walter Lippmann menyebut pers adalah jendela tempat warga melihat dunia di luar pengalaman langsungnya.

"Jika jendela itu buram, masyarakat kehilangan arah. Pers sejati tidak hanya melaporkan peristiwa, tapi juga mengembalikan fungsi informasi sebagai alat berpikir. Wartawan memverifikasi, memberi konteks, dan menata kembali logika publik di tengah banjir kabar hoaks, informasi SARA dan informasi bohong,"ujar nya diberbagai literasi didapat penulis.

Banner JPS - Bola
Bagikan

Opini lainnya
Terkini