Peran pers tersampingkan ulah konten yang digoda dari logika klik dan viralitas. Eee, media pers pun ikut tergoda mengejar kecepatan dan sensasi, bukan lagi kebenaran.
Padahal dua begawan ilmu, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menyampaikan saripati bagi wartawan, kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.
Ketika prinsip ini ditinggalkan, menurut Bill Kovac, seketika itu juga pers berhenti menjadi mercusuar di tengah lautan gelap disinformasi di media sosial dan justru menambah hingar bingar misinformasi dan disinformasi di tengah publik.
Kunci lain pers menghempang viral disinformasi adalah etika.
Etika adalah kompas melawan disfungsi informasi tidak bisa hanya mengandalkan teknologi atau undang-undang. Kuncinya tetap pada etika jurnalistik.
Begawan pers Indonesia Goenawan Mohamad, dalam tulisannya mengatakan jurnalisme adalah soal nurani, bukan hanya apa yang ditulis, tetapi bagaimana menuliskannya dengan tanggung jawab."Etika menjadi pelita cahaya di ujung kegelapan menuntun wartawan agar tidak tergoda membuat sensasi. Karena berita tidak sekadar konten, melainkan amanah untuk mencerahkan. Pers beretika tahu kapan harus bicara dan kapan harus berhenti, tahu kapan harus cepat dan kapan harus hati-hati,"beber Goenawan Muohamad.
Dari perang atas mis dan dis informasi itu, tidak bisa pers yang angkat senjata sendiri, melawan disfungsi informasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pers. Masyarakat juga perlu berperan.
Kini, banyak orang lebih percaya pada pesan dari grup WhatsApp ketimbang berita resmi dari akun resmi lembaga. Ini selain menunjukkan rendahnya literasi media di tengah masyarakat.
Padahal, seperti kata pepatah, kebodohan informasi lebih berbahaya dari kebodohan pengetahuan.