Rahmah El Yunusiyyah dan Aisyah Amini: Dua Perempuan Minang, Dua Zaman, Satu Suara untuk Demokrasi yang Adil

Foto Irdam Imran

PADANG PANJANG - Hari Pahlawan tahun ini menjadi momen bersejarah bagi Sumatera Barat. Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyyah, pendiri Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang — lembaga pendidikan perempuan Islam pertama di Asia Tenggara yang telah berusia lebih dari satu abad.

Penghargaan ini menjadi pengakuan atas perjuangan Rahmah dalam membangun pendidikan dan martabat perempuan Indonesia sejak tahun 1923. Dari sekolah sederhana di Padang Panjang, Rahmah menyalakan obor ilmu dan iman yang melahirkan banyak perempuan tangguh, termasuk salah satu alumninya: Aisyah Amini, yang kemudian menjadi anggota MPR RI dan turut berperan dalam amandemen UUD 1945.

Aisyah Amini, Suara dari Diniyah untuk Senayan

Sebagai alumni Diniyah Puteri dan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Aisyah Amini dikenal sebagai perempuan cerdas, santun, tetapi tajam dalam analisis politik.

Dalam sidang-sidang MPR RI, Aisyah menjadi salah satu tokoh yang kritis terhadap sistem pemilihan presiden langsung yang diberlakukan pasca-reformasi.

“Pemilihan presiden langsung memang tampak demokratis, tetapi tidak adil bagi calon dari luar Pulau Jawa,”

Aisyah Amini, Anggota MPR RI era reformasi.

Menurutnya, sistem ini cenderung menguntungkan calon dari Jawa karena jumlah penduduk Jawa yang padat mencapai lebih dari separuh penduduk Indonesia.

Sementara itu, penduduk di luar Jawa secara kuantitas jauh lebih sedikit, sehingga kekuatan suara mereka secara nasional sangat terbatas.

Ketimpangan Politik Akibat Konsentrasi Penduduk di Jawa

Banner WIES 2025 1
Bagikan

Opini lainnya
Terkini