Rahmah El Yunusiyyah dan Aisyah Amini: Dua Perempuan Minang, Dua Zaman, Satu Suara untuk Demokrasi yang Adil

Foto Irdam Imran

Kritik Aisyah Amini terbukti relevan hingga kini. Dengan dominasi demografis di Jawa, hasil pemilihan presiden hampir selalu ditentukan oleh suara pemilih di Pulau Jawa.

Apalagi, banyak transmigran asal Jawa kini tersebar di luar pulau Jawa, sehingga secara politik, pola dukungan tetap terpusat pada calon yang populer di Jawa.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan geografis politik, di mana calon-calon potensial dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, atau Papua nyaris tidak memiliki peluang realistik untuk menembus arena pemilihan nasional tanpa dukungan koalisi besar dan biaya kampanye yang sangat tinggi.

“Demokrasi langsung di Indonesia berubah menjadi demokrasi biaya tinggi, yang tidak ramah bagi tokoh daerah,”

Aisyah Amini.

Rahmah dan Aisyah: Dua Jalan, Satu Nilai

Rahmah El Yunusiyyah membangun peradaban perempuan melalui pendidikan.

Aisyah Amini melanjutkan semangat itu dengan membangun kesadaran keadilan politik di tingkat nasional.

Dua-duanya berangkat dari nilai yang sama: iman, ilmu, dan tanggung jawab terhadap bangsa.

Jika Rahmah menyalakan obor ilmu dari Padang Panjang, maka Aisyah membawa cahaya itu ke Senayan - menjadi suara dari daerah yang menuntut keadilan representasi politik dalam sistem demokrasi Indonesia.

Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbarBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Bagikan

Opini lainnya
Terkini