Lebih baik kita berbeda satu hari dalam kalender daripada berbeda selamanya dalam persaudaraan.
Ramadhan datang bukan untuk menguji siapa yang paling benar secara teknis, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh membersihkan diri. Ia datang untuk melembutkan hati, bukan mengeraskannya. Ia datang untuk mempersatukan umat dalam ibadah, bukan memecahnya dalam perdebatan.
Jika Ramadhan justru membuat kita lebih mudah marah, lebih gemar menyalahkan, dan lebih sibuk berdebat tentang tanggal, maka sesungguhnya kita telah kehilangan esensi Ramadhan itu sendiri.
Sudah saatnya umat Islam memandang perbedaan penetapan Ramadhan dengan kacamata ilmu dan kedewasaan, bukan dengan emosi dan kepentingan politik. Biarlah ulama dan ahli falak berijtihad sesuai ilmunya. Tugas kita sebagai umat adalah beribadah dengan ikhlas dan menjaga persaudaraan.
Karena pada akhirnya, Allah tidak akan bertanya kapan kita mulai berpuasa, tetapi bagaimana kita menjalani Ramadhan itu sendiri.Wallahu a’lam.
