Dalam sambutannya, Sukamta menyebut era digital sebagai “pisau bermata dua” yang memberi ruang partisipasi luas sekaligus membawa tantangan berupa misinformasi, disinformasi, hingga potensi polarisasi.
Andre Sainyakit menekankan perlunya komunikasi politik berbasis perdamaian, sementara Mira Natalia mencontohkan fenomena FOMO di media sosial sebagai bentuk nyata dari Prosumenesia.Seminar yang diikuti ratusan peserta dari kalangan akademisi, politisi, mahasiswa, hingga tenaga ahli DPR berlangsung interaktif, membahas tren komunikasi digital terkini serta implikasinya bagi demokrasi Indonesia. (*)
Editor : Fix Sumbar