JAKARTA - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada Agustus 2026 dinilai menjadi momentum penting bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia itu untuk melakukan evaluasi sekaligus memperkuat arah perjuangan memasuki abad kedua masa khidmahnya.
Anggota Kompolnas periode 2020-2024 sekaligus mantan Anggota Komisi Informasi DKI Jakarta dua periode, Mohammad Dawam, menilai calon Ketua Umum PBNU mendatang perlu belajar dari pola kepemimpinan empat ketua umum sebelumnya.
“Empat generasi kepemimpinan PBNU telah meninggalkan karakter dan warisan besar pada zamannya masing-masing. Itu bisa menjadi semacam miqat atau arah kebijakan bagi kepemimpinan NU ke depan,” tulis Dawam dalam opini yang diterima wartawan, Kamis (28/5/2026).
Menurut Dawam, kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi simbol kedekatan PBNU dengan akar rumput. Gus Dur dinilai mampu membangun komunikasi langsung dengan warga NU hingga lapisan terbawah.
“Gus Dur tidak sekadar mengkritik pemerintah ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat kecil, tetapi beliau juga rutin turun ke masyarakat, menghadiri pengajian kampung dan ziarah ke tokoh-tokoh NU,” tulisnya.
Dawam menyebut pendekatan humanis Gus Dur membuat warga NU merasa dihormati dan memiliki hubungan batin yang kuat dengan PBNU.Sementara itu, model kepemimpinan KH Hasyim Muzadi dinilai lebih menonjol dalam aspek manajemen organisasi dan diplomasi kebangsaan.
“KH Hasyim Muzadi berhasil membangun hubungan harmonis, baik di internal NU maupun lintas organisasi dan lintas agama. Pada masa itu, sinergi NU dan Muhammadiyah sangat terasa,” katanya.
Ia juga menilai kiprah internasional NU melalui ICIS (International Conference of Islamic Scholars) menjadi salah satu warisan penting yang perlu diperkuat kembali.
“Peran NU sebagai juru damai dunia sangat relevan, terutama di tengah konflik global yang terus memanas,” ujar Dawam.
Editor : Fix Sumbar


