Namun di balik itu, ada refleksi yang tak kalah penting: jangan sampai kita terlalu jauh melihat ke luar, tetapi lupa melihat ke dalam.
Realitas di Sumatera Barat menyimpan persoalan yang tidak kecil, terutama di sektor ekonomi. Perlambatan pertumbuhan ekonomi bukanlah gejala baru. Sinyalnya sudah muncul sejak lama.
Sejak sekitar 2010, tren pelemahan mulai terlihat. Pada 2018, pertumbuhan ekonomi Sumbar mulai tertinggal dari pertumbuhan nasional, dan kondisi itu berlanjut hingga kini.
Pasca pandemi, jurangnya semakin lebar. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,11 persen, sementara Sumatera Barat hanya 3,37 persen. Kian dalam deviasinya.
Yang lebih mengkhawatirkan, inflasi justru lebih tinggi—sekitar 5,15 persen. Ini adalah kombinasi yang tidak sehat: pertumbuhan ekonomi rendah, sementara harga harga barang dan jasa tinggi.
Data ini berbicara jelas: ekonomi daerah sedang tidak baik-baik saja. Pertanyaannya, mengapa hal ini tidak dibicarakan secara serius oleh civitas akademik.Sumatera Barat membutuhkan inovasi baru. Investasi harus dihadirkan untuk mengungkit kembali ekonomi yang melambat. Kita tidak boleh terlalu lama terjebak dalam jurang stagnasi. Kita tidak boleh kalah dari daerah lain seperti Bengkulu, Jambi, atau Riau.
Kita harus bangkit. Inilah yang semestinya menjadi tema diskusi berkelanjutan di kalangan kampus.
Berbeda, tetapi Tetap Bersama
Sebagai salah satu pelaku sejarah peristuliwa reformasi (1997-1998) dan jurnalis terus teranv sangat jarang seorang pejabat negara dan politisi mau berdialog dengan aktivis mahasiswa. Ada adegium, kampus dan aktivisnya adalah "kandang macan". Jangankan dapat empaty dukungan, kehadiran politisi dalam ruang diskusi kadang kala bertranspormasi menjadi ajang " Pembantaian".
Editor : Fix Sumbar


