Sedangkan pada era KH Said Aqil Siroj, Dawam melihat NU lebih fokus pada pembangunan sumber daya manusia dan penguatan pendidikan.
“Era KH Said Aqil ditandai dengan tumbuhnya kampus-kampus NU, pengembangan rumah sakit NU, hingga program beasiswa kader ke luar negeri,” katanya.
Menurutnya, langkah tersebut menjadi investasi jangka panjang bagi penguatan peradaban NU dan peningkatan kualitas kader.
Adapun kepemimpinan KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya disebut membawa pembaruan dalam tata kelola organisasi melalui sistem administrasi satu pintu.
“Manajemen satu pintu membuat tata kelola organisasi lebih tertib, terkontrol dan akuntabel,” ujar Dawam.
Meski dinilai lebih ketat dan birokratis, ia menilai sistem tersebut penting untuk menjaga profesionalisme kelembagaan NU.
Dawam menegaskan, kepemimpinan PBNU ke depan harus mampu menggabungkan seluruh nilai positif dari empat model kepemimpinan tersebut.“NU harus tetap memegang prinsip Al-Muhafadhatu ‘Alal Qadiimish-Sholih Wal Akhdzu Bil Jadiidil Ashlah, menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik,” katanya.
Ia juga mendorong PBNU memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah, masyarakat sipil dan dunia internasional dalam membangun kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
Menurutnya, kader-kader terbaik NU perlu didorong mengisi berbagai posisi strategis negara, tidak hanya di BUMN tetapi juga pada sektor pengambilan kebijakan nasional lainnya.
Editor : Fix Sumbar


