Reaktivasi Kereta Api

Reaktivasi Kereta Api
Reaktivasi Kereta Api

Oleh: Two Efly

Wartawan Ekonomi

Minggu pagi (27/9), sebuah informasi penting dan menarik muncul di WhatsApp Group Top 100. Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Andre Rosiade, menginformasikan rencana reaktivasi jalur kereta api Sumatera Barat.

Informasi itu langsung memantik respons anggota grup. Mayoritas mengapresiasi. Bahkan, "tukang kipeh" pun sepertinya berubah menjadi rasional dan ikut memberikan dukungan. Untuk urusan kereta api, sepertinya hampir semua sepakat.

Mengapa? Karena kereta api bukan barang baru bagi masyarakat Sumatera Barat. Justru sebaliknya. Kereta api merupakan salah satu moda transportasi darat tertua di Ranah Minang.

Sejarahnya panjang. Ketika batu bara Ombilin ditemukan dan kemudian dikembangkan di Sawahlunto, pemerintah kolonial membangun jaringan kereta api untuk mengangkut batu bara dari kawasan tambang menuju Pelabuhan Emmahaven, yang kini dikenal sebagai Teluk Bayur.

Pembangunan jaringan itu kemudian berkembang. Rel menjalar dari Padang menuju Padang Panjang, Bukittinggi, Solok, Muaro Kalaban dan Sawahlunto. Jaringan juga berkembang ke Pariaman hingga Sungai Limau.

Pada zamannya, kereta api menjadi urat nadi transportasi Sumatera Barat. Jalur Padang–Padang Panjang dan Padang Panjang–Bukittinggi mulai beroperasi pada 1891. Jalur Padang Panjang–Solok dan Solok–Muaro Kalaban menyusul pada 1892. Muaro Kalaban–Sawahlunto kemudian tersambung pada 1894, sementara jalur Bukittinggi–Payakumbuh selesai pada 1896. Artinya, lebih dari satu abad lalu masyarakat Sumatera Barat sudah mengenal konektivitas antarkawasan dengan kereta api.

Kereta api bukan sekadar mengangkut orang. Ia mengangkut ekonomi. Batu bara bergerak. Hasil bumi bergerak. Orang bergerak. Kota-kota tumbuh di sepanjang lintasan rel.

Ombilin, Pembuka dan Penutup

Editor : Fix Sumbar
Banner JMSI 2026Banner - Berita Duka Bpk Azwar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini