Reaktivasi Kereta Api

Reaktivasi Kereta Api
Reaktivasi Kereta Api

Ada satu bab penting dalam sejarah perkeretaapian Sumatera Barat: batu bara Ombilin.

Penemuan dan pengembangan tambang batu bara Sawahlunto menjadi salah satu alasan utama dibangunnya jaringan rel di Sumatera Barat. Rel menjadi penghubung antara tambang dengan pelabuhan.

Dari Sawahlunto, batu bara diangkut menggunakan kereta api menuju Emmahaven atau Teluk Bayur untuk kemudian dikirim ke berbagai tujuan. Pada masa itu, kereta api benar-benar menjadi tulang punggung ekonomi. Namun, sejarah kemudian berubah.

Produksi batu bara Ombilin terus menurun. Akhirnya, angkutan batu bara melalui jalur Sawahlunto–Muaro Kalaban–Solok–Padang ikut berhenti. Operasional angkutan batu bara Ombilin berakhir pada 2003.

Rel yang dahulu sibuk perlahan menjadi sepi. Dari sepi, akhirnya berhenti. Sementara itu, jalur-jalur menuju kawasan Darek juga mengalami nasib yang hampir sama. Jalur Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh–Limbanang tidak lagi menjadi tulang punggung transportasi masyarakat.

Semak dan belukar mulai mengambil alih. Di sejumlah tempat, badan jalan rel bahkan berubah menjadi kawasan permukiman. Rumah, toko, kedai dan berbagai bangunan tumbuh di atas atau di sekitar bekas jalur kereta api. Jalur yang dahulu menghubungkan satu kawasan dengan kawasan lainnya perlahan kehilangan fungsinya.

Kereta Api “Come Back”

Kini, kereta api akan kembali. kereta api ternyata tidak benar-benar mati di Sumatera Barat. Pelan-pelan ia hidup kembali. Jalur Padang–Pariaman menjadi salah satu bukti bahwa masyarakat masih membutuhkan kereta api. Kemudian berkembang layanan menuju Kayu Tanam dan layanan kereta bandara.

Menariknya, respons masyarakat juga semakin positif. Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, misalnya, mencatat adanya peningkatan minat terhadap layanan kereta api rute Padang–Kayu Tanam. Dalam paparan Dinas Perhubungan Sumatera Barat pada Februari 2026 disebutkan jumlah penumpang rute tersebut meningkat dari sekitar 9.000 orang pada Januari 2025 menjadi sekitar 24.000 orang pada Januari 2026.

Lihatlah fenomena penumpang kereta api “manjunjiang” kantong belanja Suzuya dan produk mall lainnya. Dari Pariaman mereka belanja sambil nyuci mata ke Kota Padang. Itu pulalah dasarnya kenapa Suzuya hadir di Plaza Stasiun KA Simpang Haru.

Editor : Fix Sumbar
Banner JMSI 2026Banner - Berita Duka Bpk Azwar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini