Reaktivasi Kereta Api

Reaktivasi Kereta Api
Reaktivasi Kereta Api

Ini jelaslah sebuah sinyal. Masyarakat sebenarnya tidak meninggalkan kereta api. Masyarakat hanya membutuhkan kereta api yang hadir dengan jadwal yang tepat, tarif yang terjangkau, stasiun yang mudah dijangkau dan tujuan yang memang dibutuhkan.

Bukan Sekadar Menghidupkan Rel

Sebagai jurnalis ekonomi, saya melihat rencana reaktivasi jalur Kayu Tanam menuju kawasan Darek harus dilihat lebih jauh.

Ini bukan sekadar proyek menghidupkan kembali rel tua. Ini adalah upaya menghidupkan kembali konektivitas.

Dalam rencana yang disampaikan Andre Rosiade, jaringan yang masuk program reaktivasi mencapai 248,5 kilometer. Rinciannya: Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbangan: 162 km. Padang Panjang–Batu Tabal: 18 km. Batu Tabal–Solok: 34 km. Solok–Muaro Kalaban: 24 km. Muaro Kalaban–Sawahlunto: 4 km. Naras–Sungai Limau: 6,5 km.

Lima ruas pertama berjumlah 242 kilometer, sedangkan jika ditambah ruas Naras–Sungai Limau sepanjang 6,5 kilometer, total rencana reaktivasi menjadi 248,5 kilometer.

Bayangkan jika jaringan sepanjang itu kembali hidup. Padang terhubung dengan Kayu Tanam. Kayu Tanam terhubung dengan Padang Panjang. Padang Panjang kembali memiliki hubungan rel dengan Bukittinggi. Dari sisi lain, Padang Panjang terhubung dengan Solok, kemudian Muaro Kalaban hingga Sawahlunto. Artinya, yang dihidupkan bukan sekadar rel. Yang dihidupkan adalah jaringan ekonomi.

Belajar dari Ibu Kota

Mampukah kereta api menjemput kembali kejayaannya?

Sangat mungkin. Kita bisa belajar dari Jakarta. Commuter Line Jabodetabek sepanjang 2025 melayani 349,31 juta pengguna, atau rata-rata sekitar 957 ribu perjalanan pengguna per hari. Angka tersebut menunjukkan bagaimana kereta api dapat menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat perkotaan.

Editor : Fix Sumbar
Banner JMSI 2026Banner - Berita Duka Bpk Azwar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini