Bandingkan dengan kondisi 2026. Pada Q4/2025, pertumbuhan hanya 1,69 persen. Artinya, awal 2026 dimulai dari basis yang rendah. Jaraknya sangat jauh untuk menyamai 4,66 persen.
Dalam 45 hari pertama Q1/2026, momentum sudah melemah. Hingga pertengahan Februari, ekonomi masih melambat. Konektivitas manusia dan barang belum pulih. Pasokan sembako dari dan menuju Kota Padang masih terhambat. Kondisi ini pasti berdampak negatif pada pertumbuhan.
Walau bukan data final, separuh periode Q1/2026 cukup menjadi dasar analisis. Perputaran ekonomi berat. Belanja pemerintah belum maksimal. Belanja modal masih minim.
Saya memperkirakan pertumbuhan Q1/2026 tidak akan melampaui 3 persen. Jika itu terjadi, maka secara year on year akan terjadi kontraksi, meski secara quarter to quarter tetap positif.
Fiskal yang Masih Abu-abu
Penggerak utama ekonomi Sumbar adalah belanja pemerintah. Namun, belanja daerah pada awal 2026 tidak sebaik awal 2025.Siklus belanja memang cenderung rendah di awal tahun. Transfer keuangan daerah belum sepenuhnya turun. Belanja awal tahun bertumpu pada SiLPA tahun sebelumnya.
Belanja modal dan jasa masih minim. Pemerintah baru menjalankan belanja rutin seperti gaji dan operasional. Dampaknya terhadap makroekonomi sangat terbatas.
Belanja rehabilitasi dan rekonstruksi juga belum berjalan optimal. Bantuan sosial dan pembangunan infrastruktur fisik belum sepenuhnya digulirkan.
Tekanan fiskal menjadi penyebab utama. Taksiran kerugian akibat bencana hidrometeorologi mencapai sekitar Rp33 triliun. Penanganannya harus dilakukan secara multiyears.
Editor : Fix Sumbar