Menurutnya, ia sempat merasa ragu bisa lolos ke tahap pelatihan luring karena sejak pelatihan daring ia melihat para peserta lain sangat aktif dalam berdiskusi dan berbagi pengalaman.
“Awalnya saya sempat ragu bisa lolos, karena sejak pelatihan daring sudah terlihat bagaimana peserta lain sangat aktif. Banyak di antara mereka yang berasal dari latar belakang dosen, akademisi, praktisi, hingga penggerak komunitas,” ujarnya.
Meski sempat merasa minder, pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar yang berharga baginya. Ia mengaku mendapatkan banyak wawasan baru mengenai berbagai strategi dalam upaya penghapusan kekerasan berbasis gender.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan ini memberikan berbagai strategi penghapusan KBG, PPHAM, dan well-being bagi para pendamping kasus. (*) Editor : Fix Sumbar


