Performa Semen Padang FC di BRI Super League, Analisis Singkat Jelang Pekan ke-30

Performa Semen Padang FC di BRI Super League, Analisis Singkat Jelang Pekan ke-30
Performa Semen Padang FC di BRI Super League, Analisis Singkat Jelang Pekan ke-30

‎Namun akhir-akhir ini, Gor Haji Agus Salim Padang terasa tak lagi sama. Kini, Semen Padang FC sendiri lagi, tak ada suara gemuruh, bunyi terompet dan dentuman gendang di stadion Agus Salim, Padang. Selama beberapa dekade tim kebanggaan urang awak ini selalu tampil dengan dukungan suporter katanya fanatik. Sekarang mereka sudah pergi dan tinggalkan pemain berjuang sendiri menghadapi kompetisi yang keras.

Padahal, sejarah mencatat bagaimana suporter Semen Padang rela melakukan apa pun untuk tim kebanggaannya. Kisah almarhum wartawan senior Zatako yang dipukuli pendukung PSDS Deli Serdang di Lubuk Pakam karena dianggap "dukun punya kesaktian" saat mendukung SPFC, adalah salah satu legenda yang menunjukkan bagaimana fanatisme tak kenal kompromi.

‎Dulu, suporter datang ketika tim menang. Dan yang lebih penting, mereka tetap setia ketika tim kalah. Tapi kini, kekalahan beruntun seolah menjadi ujian iman.

‎Apakah mereka benar-benar pergi? Atau justru diam merenung di sudut-sudut tribun yang sepi, menahan tangis melihat tim kebanggaannya terlunta-lunta di jurang degradasi.

‎Cerita klasik itu kembali relevan hari ini: “Harusnya, disaat pemain dalam posisi sekarat kita jangan tinggalkan mereka. Tetap dukung dan berikan motivasi. Karena suntikan motivasi itulah obat mujarab.”

‎Mungkin kini saatnya menanyakan diri sendiri kemana para suporter angker itu? Apakah mereka akan kembali jika SPFC selamat atau justru mereka yang akan memulihkan SPFC dengan kehadiran mereka?

‎Meskipun banyak yang pergi, masih ada beberapa kelompok suporter yang bertahan. Kelompok-kelompok seperti The Kmers, Spartacks, UWS 1980, dan Padang Fans masih tercatat aktif mendukung . Mereka mungkin tidak sebanyak dulu dan sorakannya tak lagi menggema sekencang dahulu, tetapi setidaknya mereka setia di dalam suka dan duka.

‎Manajemen klub juga berusaha merangkul para pendukung. Penasihat tim Andre Rosiade menggelar pertemuan dengan puluhan suporter di Rumah Makan Silungkang untuk memperbaiki komunikasi antara manajemen dan basis pendukung.

‎"Alhamdulillah kita bisa bersilaturahmi hari ini. Kami sebagai penasihat meminta manajemen baru agar rutin berkomunikasi dengan suporter supaya tidak ada lagi sumbatan komunikasi,” kata Andre dalam pertemuan yang berlangsung pada November 2025 tahun lalu.

‎Tapi apakah silaturahmi cukup? Suporter butuh kebanggaan, bukan sekadar janji. Mereka butuh melihat tim kesayangan mereka kembali menunjukkan taringnya, setidaknya semangat juang yang tak kenal menyerah. Bukan sekadar hasil akhir.

Editor : Fix Sumbar
Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini