Sebagai seorang fotografer jurnalistik yang tumbuh di lapangan, saya menyaksikan fenomena ini mulai dianggap lazim dengan pembenaran yang menggelisahkan.
Alasan yang kerap dilempar ke permukaan biasanya berkisar antara keterbatasan waktu, demi mempercantik estetika berita, atau yang paling buruk: kemalasan untuk mengusahakan foto riil.
Logika instan ini sangat berbahaya. Ambil contoh saat sebuah bencana alam sedang berlangsung. Demi mengejar kecepatan agar mendahului media kompetitor, redaksi dengan mudahnya merakit deskripsi teks menjadi gambar AI yang mendramatisasi situasi.
Apakah mengejar kecepatan visual harus mengorbankan kebenaran faktual?
Memproduksi foto AI dalam situasi tersebut mencerminkan matinya daya usaha. Padahal, jika jurnalis tidak sempat ke lokasi, masih ada opsi yang jauh lebih etis dan jurnalistik: menggunakan foto warga di lokasi kejadian atau dokumentasi resmi pihak humas/otoritas setempat, dengan catatan tetap meminta izin pemakaian dan mencantumkan kredit pemilik foto secara jelas. Jurnalisme bekerja dengan memverifikasi realitas, bukan memfabrikasinya.
Opsi Terakhir, Bukan Kebiasaan
Bagi saya, penggunaan visual generatif AI dalam ruang siber wajib diletakkan sebagai opsi paling buncit, jika bukan sepenuhnya dihindari untuk berita hard news. Ia mungkin bisa ditoleransi dalam artikel opini spekulatif atau ilustrasi masa depan, itu pun dengan label "ILUSTRASI AI" yang sangat tegas agar tidak mengecoh pembaca.Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan yang berulang dalam berita sehari-hari adalah sebuah kemunduran moral profesi.
Jangan sampai atas nama modernisasi dan efisiensi, kita justru menyingkirkan peran fotografer dan jurnalis lapangan. Kamera boleh berganti dari analog ke digital, tetapi prinsip dasar jurnalisme tidak boleh bergeser: kita merekam dunia apa adanya, bukan menciptakan dunia yang kita inginkan.
Jika ruang redaksi mulai nyaman menyuapi pembaca dengan realitas semu buatan algoritma, maka pada hari itu juga, jurnalisme telah kehilangan jiwanya. (*)
Editor : Fix Sumbar


