Misal saja permintaan Residen Sumatra’s Weskust P.C. Arends kepada pemerintahan pusat di Buitenzorg (Bogor) untuk memastikan penyebab dan hal sekaitan gempa, maka direspons dengan mengirim seismolog dan geolog Simon Willem (S.W.) Visser dan vulkanolog M.E. Akkersdijk.
Alhasil, ungkap Yose, mereka memastikan bahwa gempa hari Senin itu bersifat tektonik, bersumber dari pergesekan patahan di daratan Pulau Sumatra yang tersimpan di kedalaman lekuk pegunungan Bukit Barisan. Dikatakannya, episentrum gempa terkait dengan garis patahan geologi yang memanjang dari Sumatra bagian utara hingga Lampung. Kita mengenalnya saat ini sebagai patahan Sumatra atau patahan Semangko.
Peristiwa 28 Juni 1926 dikenang dengan banyak nama. Dalam laporan pemerintah kolonial dan publikasi ilmiah, gempa ini kerap disebut Gempa Sumatra's Westkust, merujuk pada wilayah administratif yang terdampak luas di Pantai Barat Sumatra. Di kalangan masyarakat Minangkabau, sebutan yang lebih akrab adalah Gempa Padang Panjang, sebab kota inilah yang menerima pukulan paling dahsyat sekaligus menjadi simbol tragedi tersebut.
Namun, di antara berbagai penamaan itu, ada satu istilah yang paling membekas dalam ingatan masyarakat: Gampo Toedjoeh Hari atau Gempa Tujuh Hari. Inilah yang menjadi judul buku ini.
Dalam berbagai pemberitaan surat kabar masa kolonial, istilah Gampo Toedjoeh Hari berulang kali muncul. Sebutan itu juga dipertegas oleh anggota Volksraad, Loetan bergelar Datoek Rangkajo Maharadjo saat bercakap dengan zoolog Belanda Edward Richard Jacobson. Sebagaimana dimuat dalam Naamlijst der Leden van de Koninklijke Natuurkundige Vereeniging in Nederlandsch-Indië (1927), yang menyebut bencana tersebut sebagai gempa yang "mengguncang bumi selama tujuh hari tujuh malam".
Sebutan tersebut lahir bukan semata karena dua gempa besar yang mengguncang pada 28 Juni 1926, melainkan karena bumi tidak segera kembali tenang. Gempa susulan terus berlangsung selama berhari-hari, bahkan getarannya masih tercatat hingga Agustus 1926. Ketakutan membuat warga memilih tidur di lapangan terbuka, sementara setiap guncangan baru memperpanjang kecemasan yang belum sempat reda.
Salah satu temuan penting dalam buku Gempa Tujuh Hari adalah upaya merekonstruksi skala kerusakan dan korban berdasarkan arsip-arsip primer kolonial yang selama ini tersebar di berbagai laporan. Penelitian ini mengungkap bahwa data korban Gempa Padang Panjang 1926 sempat mengalami silang sengketa karena berasal dari beragam sumber. Namun, laporan Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1927), yang disusun beberapa bulan setelah bencana di bawah koordinasi Residen Sumatra's Westkust, berhasil memverifikasi berbagai kesaksian para insinyur, geolog, pejabat pemerintah, pengamat lapangan, hingga masyarakat.Verifikasi yang melibatkan tokoh-tokoh seperti Ir. A.L. ter Braake, Ir. A.A. Meyers, Mr. J.F.A.M. Koning, Edward Richard Jacobson, hingga Soetan Marah Alam menunjukkan bahwa Padang Panjang menjadi wilayah yang menerima dampak paling dahsyat. Di kawasan Padang Panjang, X Koto, Batipuh, Sumpur, dan Malalo tercatat sedikitnya 2.383 rumah roboh atau rusak berat, dengan 1.709 rumah berada di X Koto. Korban jiwa mencapai sedikitnya 247 orang, termasuk 220 korban di Padang Panjang dan X Koto. Kerusakan juga meluas ke Fort de Kock (kini Bukittinggi), Agam, Batusangkar, Payakumbuh, Maninjau hingga Lubuk Sikaping. Kantor berita Aneta bahkan memperkirakan nilai kerugian mencapai sekitar 10 juta gulden, angka yang sangat besar untuk ukuran masa itu.
Buku ini juga mengungkap bahwa dahsyatnya Gempa Padang Panjang tidak hanya merenggut korban jiwa dan merobohkan ribuan bangunan, tetapi juga mengubah bentang alam Sumatra Barat dalam hitungan detik. Longsor raksasa di Lembah Anai menimbun Jalan Raya Pos dan memutus jalur kereta api yang menghubungkan Padang dengan Padang Panjang. Di sejumlah lokasi menuju Bukittinggi dan Solok, rel-rel baja terpelintir, melengkung, bahkan terangkat dari bantalannya akibat deformasi tanah yang dipicu pergerakan Sesar Sumatra.
Mengacu pada dokumentasi De Ingenieur (1926) dan Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië (1927), penelitian ini memperlihatkan bagaimana infrastruktur modern kebanggaan pemerintah kolonial lumpuh total. Sebagian jalur rel di tepian Danau Singkarak bahkan bergeser dan terbenam, sementara sejumlah jembatan mengalami kerusakan berat akibat pergeseran tanah.
Editor : Fix Sumbar