“Mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dengan kearifan lokal merupakan salah satu kunci untuk membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana,” ujar peneliti dari BRIN ini.
Dalam konteks Sumatra Barat, dikatakan Danny, hal ini menjadi sangat relevan karena masyarakat hidup di atas sistem geologi aktif yang terus bergerak dalam skala waktu geologi maupun manusia.
“Saya mengapresiasi upaya Yose Hendra dalam menghadirkan kembali peristiwa gempa 1926 dengan pendekatan yang humanis, reflektif, dan semakin kuat secara ilmiah. Buku ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga sebagai media edukasi kebencanaan yang penting bagi masyarakat luas,” ungkapnya.
Pada akhirnya, sebut ahli Sesar Sumatra ini, buku karya Yose Hendra mengingatkan kita bahwa hidup di atas tanah yang aktif secara tektonik menuntut lebih dari sekadar ketahanan. Ia menuntut pemahaman, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk terus belajar daripada masa lalu. Gempa 1926 bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga cermin bagi mitigasi bencana di masa depan.
Sementara Kepala Stasiun Geofisika Kelas I BMKG Padang Panjang Suaidi Ahadi menilai buku Gempa Tujuh Hari menghadirkan perspektif baru dalam memahami salah satu bencana terbesar di Sumatra Barat. Ia menilai buku ini tidak hanya mengingatkan publik pada tragedi Gempa Padang Panjang 1926, tetapi juga membuka pemahaman mengenai karakteristik gempa besar yang bersumber dari Sesar Sumatra.
"Yang menarik dari buku ini adalah bagaimana Yose Hendra menunjukkan bahwa gempa 1926 memiliki karakteristik gempa kembar (doublet earthquake). Pola seperti ini kembali terlihat pada gempa 1943 yang melibatkan Segmen Suliti dan Sumani, serta gempa 2007 yang mengaktifkan Segmen Sumani dan Sianok. Benang merah sejarah kegempaan itu ditulis dengan sangat baik," ujar Suaidi.Ia juga mengapresiasi riset panjang yang dilakukan Yose Hendra selama lebih dari 14 tahun dalam menelusuri arsip-arsip kolonial, termasuk keberhasilan menemukan rekaman seismogram Gempa 1926. Temuan tersebut, menurutnya, menjadi salah satu kontribusi penting buku ini bagi kajian sejarah kebencanaan Indonesia.
"Dari seismogram itu kita dapat menghitung kembali besarnya energi yang dilepaskan gempa dan memperkirakan magnitudonya. Intensitas guncangannya mencapai sekitar MMI IX sehingga dampaknya sangat besar. Itu menjelaskan mengapa rel-rel kereta api sampai terpelintir, terjadi gelombang besar di Danau Singkarak, dan kerusakan meluas di kawasan Dataran Tinggi Padang," katanya.
Suaidi menjelaskan, deformasi rel kereta api yang terekam dalam dokumentasi kolonial bukan sekadar akibat guncangan biasa, melainkan jejak pergerakan energi gempa yang merambat ke permukaan. "Rel-rel yang melengkung itu sebenarnya merekam arah pergerakan tanah saat patahan bergerak. Dari bukti-bukti tersebut kita bisa membaca mekanisme sumber gempa dan arah pelepasan energinya. Inilah yang membuat buku Gempa Tujuh Hari tidak hanya penting sebagai karya sejarah, tetapi juga sebagai referensi ilmiah mengenai karakter gempa besar di Sumatra Barat," ujarnya.
Peluncuran buku Gempa Tujuh Hari yang dilakukan Yose kemarin, menjadi bagian giat Pemerintah Kota Padang Panjang bersama berbagai pemangku kepentingan dalam pagelaran Refleksi Satu Abad Gempa 1926 di PDIKM. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenang sejarah sekaligus memperkuat budaya sadar bencana dan ketangguhan masyarakat.
Editor : Fix Sumbar