Tak hanya itu, buku ini juga mengangkat satu fenomena yang jarang dibahas dalam sejarah kebencanaan Indonesia, yakni munculnya gelombang besar di Danau Singkarak sesaat setelah gempa utama. Kajian seismolog S.W. Visser dan vulkanolog M.E. Akkersdijk menyebut fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi osilasi air danau (seiche), longsoran besar di lereng danau, serta kemungkinan pergerakan vertikal sesar di dasar danau. Sedikitnya lima gelombang besar dilaporkan menghantam tepian danau, menyeret rumah-rumah kayu, merendam lahan pertanian, dan mengubah garis pantai di sejumlah lokasi.
Di balik kehancuran tersebut, buku Gempa Tujuh Hari juga merekam kisah pemulihan yang luar biasa. Berkat dukungan pemerintah kolonial dan solidaritas masyarakat, proses rehabilitasi dan rekonstruksi berlangsung relatif cepat. Menjelang akhir 1928, sebagian besar rumah, fasilitas umum, dan bangunan pemerintahan yang rusak telah berhasil dibangun kembali. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik bencana besar selalu ada daya lenting masyarakat untuk bangkit, sekaligus pelajaran penting tentang pentingnya membangun kawasan rawan gempa dengan mempertimbangkan karakter geologi dan prinsip-prinsip mitigasi bencana.
Selain merekam besarnya kerusakan, penelitian ini juga menyoroti sisi lain yang jarang diangkat, yakni lahirnya solidaritas lintas etnis, agama, dan negara dalam membantu para korban. Bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai daerah di Hindia Belanda hingga Belanda dan Eropa, menjadi bukti bahwa bencana mampu menyatukan masyarakat melampaui sekat-sekat sosial pada masa kolonial.
Salah satu pelajaran terpenting dari gempa satu abad silam adalah mengenai ketahanan bangunan. Kajian arsip menunjukkan bahwa banyak bangunan tembok bergaya kolonial runtuh akibat konstruksi yang kaku, sementara rumah-rumah kayu dan rumah gadang Minangkabau justru mampu bertahan karena memiliki struktur yang lebih lentur mengikuti guncangan gempa.
"Gempa 1926 mengajarkan bahwa di wilayah rawan gempa, ketangguhan bangunan bukan ditentukan oleh kesan kokoh, melainkan oleh kemampuan konstruksi mengikuti gerakan bumi. Kearifan arsitektur tradisional Minangkabau sesungguhnya menyimpan pengetahuan mitigasi yang lahir dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan gempa," ujar Yose Hendra.
Melalui peringatan seabad ini, masyarakat diajak untuk tidak sekadar mengenang bencana sebagai catatan sejarah, tetapi menjadikannya sebagai sumber pembelajaran dalam membangun budaya sadar bencana. Ingatan kolektif terhadap gempa besar perlu terus dirawat agar menjadi fondasi dalam memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan kualitas pembangunan, serta menjaga keselamatan generasi mendatang.Pakar geologi dan geotektonik Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, buku Gempa Tujuh Hari karya Yose Hendra ini menghadirkan upaya penting untuk membaca kembali salah satu peristiwa gempa paling bersejarah di Sumatra Barat, yaitu gempa 28 Juni 1926 di kawasan Dataran Tinggi Padang.
“Peristiwa ini tidak hanya signifikan karena besarnya dampak yang ditimbulkan, tetapi juga karena keterkaitannya dengan sistem tektonik yang hingga kini masih aktif bergerak. Sumatra berada di salah satu sistem tektonik paling aktif di dunia. Interaksi antara Lempeng IndoAustralia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia menghasilkan deformasi yang kompleks. Sebagian regangan tektonik diakumulasi, dan dilepaskan melalui zona subduksi di lepas pantai barat Sumatra, sementara sebagian lainnya diakomodasi oleh Sesar Sumatra, suatu sistem sesar geser besar yang memanjang sepanjang tulang punggung pulau ini,” terang Danny sebagaimana dicuplik dari Kata Pengantara untuk buku Gempa Tujuh Hari.
Dalam konteks tersebut, gempa 1926 merupakan manifestasi aktivitas Sesar Sumatra, yaitu pergerakan tiba-tiba pada bidang sesar yang menghasilkan pelepasan energi dan gelombang seismik. Penting untuk dipahami bahwa sumber gempa bukanlah suatu titik tunggal, melainkan bidang sesar yang dapat memanjang hingga puluhan bahkan ratusan kilometer. Pergeseran ini tidak hanya menimbulkan guncangan, tetapi dalam banyak kasus juga menjalar hingga ke permukaan sebagai ruptur permukaan sesar, yaitu deformasi dan rekahan tanah yang terjadi di sepanjang jalur sesar atau patahan.
Menurutnya, buku ini juga menunjukkan bahwa pengetahuan tentang gempa tidak hanya tersimpan dalam kajian ilmiah, tetapi juga hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, dalam cerita lisan, syair, lagu, dan cara orang menandai waktu. Pengetahuan lokal ini bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga bagian penting dari sistem pengetahuan kebencanaan yang dapat memperkuat kesiapsiagaan.
Editor : Fix Sumbar