Ketahanan Pariwisata Memperkokoh Ketahanan Nasional

Febby Dt Bangso.
Febby Dt Bangso.

Sebagai contoh invasi budaya Korea telah mampu mengalihkan rencana kunjungan orang Indonesia terutama anak/remaja untuk memilih Korea sebagai destinasi utama.Korea membangun pariwisata secara serius bahkan badan inteligen bekerja masif untuk kepentingan pariwisata dan ekonomi. Pemerintahan Korea secara masif membangun diplomasi gastronomi, bahkan sampai pada grassroot di Indonesia.

Hasilnya saat ini perkembangan kuliner Indonesia dikuasai gerai makanan Korea bahkan di seluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua. Uniknya makanan-makanan yang berbahan baku asal Korea tersebut dapat disesuaikan dengan lidah orang Indonesia sehingga bisa dinikmati.Invasi budaya ini dimulai dari industri hiburan seperti music K-pop dan drama Korea yang hilirnya adalah perawatan kulit dan kecantikan produk Korea. Selanjutnya cuplikan-cuplikan drama korea memuat objek wisata, sehingga menggugah orang Indonesia untuk berwisata ke Korea.

Produk-produk Korea juga menjadi hilirnya, sehingga saat ini alat elektronik rumah tangga, handphone semuanya dapat dikuasai. Hal ini dibangun masif, terstruktur dan terintegrasi, dengan pemerintah sebagai mastermindnya.Ketakutan utama adalah, apakah pemerintah Indonesia memperhatikan hal ini, atau justru menjadi bagian besar dari rencana nasional.

Patut dicurigai, bahkan dalam pesta demokrasi 2024, warga korea , naturalisasi Chong Sung Kim juga ikut pemilu, apakah ada agenda khusus pemerintah korea mengedepankan orang nya yang mengerti dan faham pasar besar indonesia, bahkan bisa saja pendananaan kampanye nya di support perusahaan korea yang berkepentingan di indonesiaPemerintah Indonesia apakah memang mengikuti alur ini, dimana janji kampanye nya kerjasama pendidikan di Korea, kemudian yang perlu diwaspadai apakah visa on arrival, serta golden visa menguntungkan negara lain.

Dalam konteks ancaman asing yang lebih luas, kejadian baru-baru ini di Bali, wisatawan asing dan bisnis kartel (jaringan narkoba) yang menembak wisatawan Turkie. Sementara kelakuan wisatawan Rusia dan Ukraina yang terus mengganggu kenyamanan Bali. Tentu hal ini akan menjadi preseden buruk bagi destinasi Indonesia berujung pada krisis reputasi. Framing destinasi Indonesia seakan digambarkan tidak aman, tidak nyaman sehingga wisatawan jadi enggan berkunjung.Secara historis pariwisata Indonesia belum mencapai ketahanan, karena ‘ketidakpedulian’ pemerintah.

Oleh sebab itu membangun ketahanan pariwisata multi-ancaman (keamanan, budaya, bencana, dll) harus mendapatkan perhatian lebih. Sembari membangun strategi adaptasi yang kuat, pariwisata Indonesia juga potensi bangkit dan bertumbuh dengan pesat bila memiliki rencana ketahanan pariwisata yang ideal.Hal ini mengingat karakter khas pariwisata Indonesia dengan budaya yang beraneka ragam di dukung jumlah penduduk yang besar.

Idealnya pariwisata Indonesia dapat berimbang baik dari wisata dalam maupun luar negeri. Hal ini mampu dibangun bila adanya semangat nasionalisme, rasa bangga merah putih, dan bhineka tunggal ika sebagai fondasi.Selanjutnya Ketahanan pariwisata perlu dibangun melibatkan semua pihak yang dikelola secara masif, terstruktur dan terintegrasi oleh pemerintah.

Mari bersama menjadikan Pariwisata Indonesia yang tangguh, berketahanan, dan berkelanjutan!Selamat Merayakan Hari Ketahanan Pariwisata Global Ke 2 , 17 Februari 2024. (opini)

Oleh:Febby Dt Bangso, Sst.Par M.Par

(Kandidat Doktor Ketahanan Pariwisata, Institut Pariwisata Trisakti) 

Editor : Fix Sumbar
Banner Komintau - MenteriBanner KI sumbarBanner Nevi - HajiBanner Rahmat Hidayat - Hari BuruhBanner Rahmat Saleh - Pers
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini