Birokrasi Parlemen Senayan: Dari Pengabdian Menuju Ujian Meritokrasi

Birokrasi Parlemen Senayan: Dari Pengabdian Menuju Ujian Meritokrasi
Birokrasi Parlemen Senayan: Dari Pengabdian Menuju Ujian Meritokrasi

Karena itu, loyalitas birokrasi seharusnya bukan kepada individu, melainkan kepada institusi, hukum, konstitusi, dan kepentingan negara.

Persoalan muncul ketika kedekatan personal mulai lebih menentukan daripada kompetensi. Dalam kondisi seperti itu, birokrasi dapat bergeser dari meritokrasi menuju patronase.

Meritokrasi bertanya, siapa yang paling kompeten?

Patronase bertanya, siapa yang paling dekat?

Perbedaan dua pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar terhadap kultur organisasi.

Jika pegawai melihat bahwa prestasi dan kompetensi tidak selalu menjadi faktor utama dalam perjalanan karier, sementara kedekatan dengan pusat kekuasaan justru memberikan keuntungan, maka organisasi secara perlahan mengajarkan perilaku yang salah.

Pegawai tidak lagi berlomba menjadi yang paling profesional. Mereka dapat terdorong untuk menjadi orang yang paling nyaman bagi kekuasaan.

Dalam konteks birokrasi parlemen, persoalan tersebut juga bersinggungan dengan hubungan keluarga.

Ada pengalaman yang menarik untuk direnungkan ketika seorang birokrat senior dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa ASN harus bekerja untuk negara, bukan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok. Prinsip tersebut tentu patut didukung.

Namun, pada saat yang sama, muncul pengalaman mengenai masuknya anggota keluarga dan jejaring keluarga ke dalam lingkungan birokrasi.

Editor : Fix Sumbar
PWI SumbarHJK Padang 357 - JPSHJK Padang 357 - JPS 2HJK Padang 357 - FWP DPRD SumbarHJK Padang 357 - KI Sumbar
Bagikan

Berita Terkait
Terkini