Oleh: Gilang Gardhiolla Gusvero, Wartawan
Nama Dony Oskaria tidak disebut paling awal dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI-DPD RI Tahun 2026. Namun jejak pekerjaannya terasa hampir di setiap bagian ketika Presiden berbicara tentang kebangkitan perusahaan-perusahaan milik negara.
PT Timah. Pupuk Indonesia. Semen Indonesia. Pertamina. Pelindo. BTN. Bank Mandiri.
Satu per satu nama BUMN itu disebut sebagai contoh perusahaan yang menunjukkan perbaikan kinerja dan pertumbuhan laba. Di hadapan para anggota parlemen dan seluruh rakyat Indonesia, Presiden menyampaikan apresiasi atas transformasi yang sedang berlangsung di tubuh perusahaan negara.
Publik melihat hasilnya dalam bentuk angka. Laba meningkat. Kinerja membaik. Tata kelola yang semakin kuat.
Namun di balik angka-angka itu, ada pekerjaan panjang yang tidak banyak terlihat. Ada rapat yang berlangsung hingga larut malam. Ada evaluasi terhadap ratusan anak dan cucu usaha. Ada keputusan-keputusan sulit yang tidak selalu populer. Ada keberanian membongkar persoalan lama yang bertahun-tahun tersimpan di balik laporan keuangan perusahaan negara.Salah satu orang yang berada di pusat pekerjaan itu adalah Dony Oskaria.
Putra Tanjung Alam, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, itu kini memegang dua amanah besar sekaligus. Ia dipercaya memimpin Badan Pengelola BUMN dan menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Jabatan itu, bukan hanya posisi administratif. Di pundaknya melekat tanggung jawab mengawal transformasi ratusan perusahaan negara yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
Ketika Presiden Prabowo memberikan kepercayaan tersebut pada Oktober 2025, kondisi yang dihadapi tidak sederhana.
Editor : Fix Sumbar