Namun bagi urang awak di ranah Minang, cerita ini memiliki makna yang lebih dalam.
Di tengah agenda besar penataan ekonomi nasional, seorang anak nagari dari Tanjung Alam dipercaya berada di ruang kendali perubahan. Ia tidak lahir dari pusat kekuasaan. Ia tumbuh di ranah Minang dengan nilai kerja keras, semangat belajar, dan tradisi marantau yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Perjalanannya menjadi pengingat bahwa talenta-talenta terbaik bangsa tidak hanya lahir dari kota-kota besar. Banyak di antaranya tumbuh dari nagari, dari kampuang-kampuang kecil, dari keluarga sederhana yang percaya bahwa pendidikan dan kerja keras dapat mengubah masa depan.
Karena itu, kisah Dony Oskaria sesungguhnya bukan hanya tentang seorang pejabat atau profesional yang berhasil mencapai posisi tinggi. Ini adalah kisah tentang bagaimana seorang anak nagari mengambil bagian dalam pekerjaan besar negara.
Di usia kemerdekaan yang ke-81, Indonesia membutuhkan lebih banyak cerita seperti ini. Cerita tentang orang-orang yang tidak hanya menikmati hasil pembangunan, tetapi ikut membangunnya.Dan ketika perusahaan-perusahaan negara mulai bangkit, ketika tata kelola terus diperbaiki, serta ketika aset-aset nasional semakin produktif, ada jejak seorang anak nagari dari ranah Minang di dalam proses panjang tersebut.
Urang awak mengenalnya sebagai Dony Oskaria. Indonesia mengenalnya sebagai salah satu penggerak transformasi BUMN nasional.
Barangkali itulah makna paling sederhana dari sebuah perjalanan marantau. Berangkat dari Tanjung Alam sebagai anak nagari biasa, lalu ikut mengambil bagian dalam pekerjaan besar yang menentukan arah masa depan bangsa. Dari ranah Minang, jejak itu kini sampai ke ruang-ruang tempat masa depan ekonomi Indonesia dirancang. (*)
Editor : Fix Sumbar