Pasar Ghoib

Foto Two Efly

Daya beli stagnan.

Lapangan kerja menyusut.

Investasi ritel menurun.

Ketika retail konvensional tutup, karyawan kehilangan pekerjaan. Ketika mall sepi, tenant tak sanggup membayar sewa. Ketika toko kelontong meredup, rantai pasok lokal ikut terganggu.

Dan pada saat yang sama, uang yang seharusnya berputar lima hingga enam kali di dalam daerah, kini hanya lewat sekejap lalu keluar. Inilah yang meredupkan makro ekonomi sebuah wilayah.

Pasar tradisional lengang bukan hanya soal perubahan gaya hidup. Itu pertanda melemahnya sirkulasi uang lokal. Lebih banyak pedagang daripada pembeli. Lebih banyak etalase terbuka daripada transaksi terjadi.

Jika tren ini terus berlangsung tanpa penataan, daerah-daerah akan menjadi sekadar pasar konsumsi. Hanya menjadi tempat belanja, bukan tempat pertumbuhan ekonomi.

Uang masuk sebentar, lalu keluar dalam jumlah besar. Daerah kehilangan daya tahan ekonominya. Inilah bahaya yang jarang dibicarakan.

Pasar ghoib memang pisau bermata dua. Ia memberi kemudahan dan efisiensi. Banyak UMKM tumbuh karenanya. Tetapi tanpa regulasi dan tata kelola yang adil, ia juga menciptakan ketimpangan.

Pasar konvensional dibebani pajak dan regulasi. Sementara sebagian aktivitas digital bergerak lebih ringan. Ketimpangan ini harus disikapi dengan kebijakan yang bijak—bukan untuk mematikan inovasi, tetapi untuk menjaga keseimbangan.

Banner Ultah Danantara
Bagikan

Opini lainnya
Terkini